Saya mulai menulis puisi setelah kepergian ayah saya. Pada masa lockdown pandemi, saya serta almarhum ayah saya sama-sama terinfeksi COVID-19. Situasi di luar tubuh maupun di dalam tubuh membuat kami benar-benar tidak dapat bergerak. Dalam momen yang hening, saya mulai belajar menggunakan kata sebagai wahana ekspresi.
Saya menyukai proses ini. Menulis puisi menjadi cara untuk memahami dan menyalurkan kondisi batin. Ia menjadi aktivitas yang dapat dilakukan ketika bepergian, atau ketika saya tengah duduk di suatu tempat. Menulis puisi menjadi cara yang cukup bagi saya untuk mengurai perasaan.
Sebagai seseorang yang menggunakan tubuh sebagai wahana utama, saya menyadari puisi-puisi yang saya tulis merupakan cara lain untuk memahami tubuh sebagai wadah keberadaan saya sendiri.
Saya membuat kolom ini untuk menampung puisi-puisi saya yang sebelumnya saya bagikan di Instagram, dan yang saya buat setelahnya.
I began writing poetry after my father passed away. During the pandemic lockdown, my late father and I were both infected with COVID-19. The circumstances both inside and outside our bodies left us unable to move. In that quiet moment, I began learning to use words as a medium of expression.
I enjoy the process. Writing poetry became a way to understand and channel my inner state. It was an activity I could engage in while travelling or simply sitting somewhere. For me, writing poetry became a way of working through my feelings.
As someone who primarily uses the body as a medium, I came to realise that the poems I write are another way of understanding the body as a vessel for my own existence.
I created this column to gather the poems I had previously shared on Instagram, along with those I have written since.
