Memaki Dengan Fitri

2024

Remaja saya beradu keras kepala dengan seorang yang saya cinta.
Masalahnya cukup runyam, tapi kami tidak juga bicara.
Pesan saya tidak dibalas, bicara langsung tidak digagas.
Teman-temannya ikut membenci saya, tahu-tidak tahu masalahnya dengan mereka.
Lalu saya bicara dengan Kevin, saya masih ingat sore itu kami berdua di kantin,
Saya minta saran dia, agar maaf saya bisa dipercaya.
Walaupun terdengar konyol, tapi sampai sekarang sarannya nyantol,
“Minta maaf saja saat lebaran, nanti kan semua orang memaafkan”

Saat lebaran, kata maaf jadi peluru gila yang orang tembakkan ke segala arah.
Berharap dua-tiga di antaranya menancap dengan mantap, jika tidak dianggap saja sebagai peluru nyasar.
Maaf jadi murahan, grosiran, obralan. Saya ragu apakah maaf kala lebaran betul-betul menyelesaikan.

Kala idul fitri, kita dibanjiri kata maaf yang keruh putihnya menutup kelam dendam.
Lebaran kita menebar senyuman dari bibir merah yang membungkam amarah.
Waktu liburan diisi dengan belanja baju baru dan pelipis yang membiru.
Syawal jadi bualan atas awal yang suci, hari yang fitri, lalu besoknya kita kembali memaki.

Tahun demi tahun, saya menyaksikan mereka saling menyembah maaf dengan belada.
Mereka datang dengan dada yang terbuka dan jiwa yang terluka.
Menyekap rasa agar kuat bertemu sanak-saudara, menatap cinta lama.

Jadi tidak heran ketika maaf menawarkan Anda untuk kembali dan melupa, Anda lebih pilih melipir ke pesisir mengaduk samudera.

Lebaran hanya kue nastar bagi mereka yang mengemis ampun dengan barbar,
Namun gerhana bagi mereka yang berani mengasihi dirinya sekali lagi.
Bagi mereka yang air matanya mengalir kembali.
Bagi mereka yang belajar berjalan lagi.
Previous
Previous

Cimeng (2024)

Next
Next

Cakil (2024)