Razan Wirjosandjojo
razanwirjosandjojo@gmail.com
BIO
(English)
Razan Wirjosandjojo is an artist based in Solo, Indonesia. His artistic practice approaches the body as both a physical and temporal site, where movement becomes a conversation between organs and the soul. Working across dance, performance art, film, and other mediums, Razan is interested in exploring corporeal qualities, the workings of consciousness, and possibilities beyond the conventions of the stage and representation in the performing arts. He believes that with the advent of AI, art needs to find new ways of presenting the body—not merely as a visual object, but as a breathing and feeling subject.
He graduated from the Dance Department at the Indonesian Institute of the Arts Surakarta. He began his dance practice in 2010, learning in various spaces and communities in Jakarta before moving to Solo in 2017. Since relocating to Solo, he has continued to develop his artistic practice through ongoing mentorship with Melati Suryodarmo, which began in 2018. Razan currently works as a staff member at Studio Plesungan.
Razan has presented his work across various programs and regions, including Undisclosed Territory and ON STAGE by Studio Plesungan, Solo; Manifesto Exhibition by the National Gallery of Indonesia, Jakarta; Imajitari International Dance Film Festival by the Jakarta Arts Council; Mini Film Festival by Mini Arts Festival, Kuala Lumpur; Indonesia Bertutur 2022, Borobudur; Cinedanza Festival 2023, Modena; Alcine Film Festival 52, Madrid; Asiatopia Performance Art Festival, organized by Asiatopia and the Bangkok Art and Culture Centre, Bangkok; and March Dance, organized by 21 Basement, Chennai, among others.
(Bahasa)
Razan Wirjosandjojo adalah seorang seniman yang berbasis di Solo, Indonesia. Praktik karyanya memandang tubuh sebagai situs fisik sekaligus temporal, tempat gerak menjadi percakapan antara organ dan jiwa. Bekerja dengan tari, seni performans, film, dan wahana lainnya, Razan tertarik untuk memusatkan praktiknya untuk menelusuri kualitas ketubuhan, kerja kesadaran, dan kemungkinan-kemungkinan di luar konvensi panggung dan representasi dalam seni pertunjukan. Razan percaya bahwa dengan kedatangan AI, seni perlu bekerja dengan cara yang baru dalam menghadirkan tubuh—tak terbatas pada objek visual, menjangkau lebih jauh sebagai subjek yang bernapas dan merasa.
Ia lulus dari jurusan Tari Institut Seni Indonesia Surakarta. Ia mulai menekuni praktik tari sejak tahun 2010, belajar di berbagai ruang dan komunitas di Jakarta sebelum pindah ke Solo tahun 2017. Sejak pindah ke Solo, ia melanjutkan pengembangan artistiknya melalui bimbingan berkelanjutan bersama Melati Suryodarmo yang dimulai pada tahun 2018. Saat ini Razan bekerja sebagai staf di Studio Plesungan.
Razan telah mempresentasikan karyanya di berbagai program dan wilayah, di antaranya: “Undisclosed Territory” & “ON STAGE” oleh Studio Plesungan, Solo, “Pameran Manifesto” oleh Galeri Nasional, Jakarta. “Imajitari International Dance Film Festival” oleh Dewan Kesenian Jakarta. “Mini Film Festival” by Mini Arts Festival. Kuala Lumpur. Indonesia Bertutur 2022, Borobudur. Cinedanza Festival 2023. Modena. Alcine Film Festival 52, Madrid, Asiatopia Performance Art Festival, by Asiatopia & Bangkok Art and Culture Centre, Bangkok. March Dance, by 21 Basement, Chennai, dan lainnya.
Artist Statement
Tumbuh dari latar belakang tari yang fisikal dan industrial, proses kekaryaan saya menjadi kesempatan untuk kembali memahami tubuh secara lebih holistik. Melalui penciptaan karya, saya tertarik memperluas pemahaman tentang tubuh dan relasinya dengan dunia di dalam maupun di luar dirinya. Dalam beberapa tahun terakhir, saya tertarik mencari kemungkinan menghadirkan gerak dan laku dari sudut pandang lain selain “pementasan”. Proses ini membuat karya-karya saya tetap berporos pada tubuh, sekaligus membebaskannya dari batas-batas panggung agar dapat bekerja melalui cara, situasi, dan wahana lain. Saya tertarik pada ide-ide yang memantik pertanyaan mendasar mengenai keberadaan diri, serta mendorong keterlibatan tubuh, gerak, laku, dan ruang-waktu sebagai material yang ikut membahasakan gagasan dalam karya-karya saya. Dalam setiap karya, saya memberi perhatian pada bagaimana pengalaman menjadi dasar dari proses artistik: baik sebagai cara menubuhkan realitas dan hubungan manusia dengan lingkungannya, maupun sebagai pengalaman yang dialami oleh penampil dan yang menyaksikan.
—
Growing from a background in physical and industrial dance practices, my artistic process has become an opportunity to return to and reconsider the body in a more holistic way. Through making works, I am interested in expanding my understanding of the body and its relationship with the worlds both within and outside itself. In recent years, I have become interested in seeking possibilities for presenting movement and bodily acts from perspectives other than using "theater logic". This process allows my works to remain strongly centered on the body while simultaneously freeing them from the boundaries of the stage, enabling them to operate through other methods, situations, and media. I am drawn to ideas that provoke fundamental questions surrounding existence and the self, encouraging the involvement of the body, movement, bodily acts, and space-time as materials that articulate the ideas carried within my works. In each work, I pay close attention to how "pengalaman" becomes the foundation of the artistic process: it can be understood as how the work serves as the process of embodying nature (alam) as reality, and as how the work becomes a lived experience by both the performer and the witness.