Krisis Ruang Dalam

Click here if you want to read this article in English

Pertunjukan A Place We Could Not Name yang saya kerjakan bersama Xue dan Mervin Wong usai dipresentasikan pada 23 Agustus 2026, mengakhiri proses residensi yang berlangsung selama lima pekan. Sesaat terasa melegakan, namun ketika bulan mulai merayap tinggi riak pertanyaan meluap ke telapak pikiran. Maka sembari berjalan di antara terang gedung, saya meniti renung. Renungan ini menjadi aliran yang tidak hanya memantulkan pertunjukan semata, ia memanjang menjadi sungai. Pikiran saya berjalan menapaki sungai yang menghubungkan pertunjukan ini dengan dunia-dunia yang memungkinkannya.

Pada pertunjukan ini, kami melibatkan publik untuk bergerak mengikuti dua “pemandu”, yaitu saya dan Xue. Pertunjukan terasa berjalan dengan baik, namun saya merasakan adanya persoalan mengenai bagaimana keterlibatan publik dipahami. Saya melihat keterlibatan yang ditawarkan perlahan membangun sekat-sekat di antara penonton, melahirkan eksklusivitas. Keutuhan pengalaman dimiliki oleh mereka yang secara langsung mengikuti aksi, sementara keberadaan publik lain yang tidak terlibat langsung kehilangan perhatian. Seolah-olah karya hanya berbicara kepada mereka yang berada di dalam lingkaran pengalaman tertentu.

Hal ini kemudian melahirkan persoalan lain. Aksi-aksi yang dilakukan tetap berpusat pada sosok pemimpin, seseorang yang harus diikuti. Pengalaman publik akhirnya berporos pada tindakan "membuntuti", namun masih lemah pada kemungkinan membangun pengalaman puitik kepada publik yang hadir, menawarkan persepsi lain dalam memandang realitas. Ketika karya terus berdiri di atas hubungan antara pempimpin dan pengikut, karya berisiko jatuh ke dalam sistem yang otoritatif.

Pola yang diciptakan dari hubungan pemimpin-pengikut ini kerap berfokus pada bentuk-bentuk melingkar, terpusat pada yang memimpin. Peristiwa menggelinding pada kesan pseudo-ritual atau pseudo-terapi: menghadirkan estetika ritual tanpa fungsi dan transformasi. Hal ini bagi saya menggelisahkan, bahkan seketika berada di pertunjukan itu.

Alir pikiran meninggi, perlahan saya berjalan masuk ke badan air. Pada kaki yang mulai menginjak lumpur, saya berjalan masuk lebih dalam untuk menyusuri arus yang telah membawa diri saya ke hilir kegelisahan saya. Saya mencelupkan wajah ke dalam arus untuk mendapati, bahwa ada perbedaan yang lebih mendasar mengenai cara masing-masing dari kami memahami penciptaan seni.

Selama proses residensi, saya merasakan bahwa penciptaan terlalu cepat berorientasi pada produk dan bentuk. Berbagai bentuk terus bermunculan, ditempelkan satu demi satu, sementara inti gagasan yang seharusnya menjadi sumber pertumbuhannya belum pernah benar-benar disepakati. Yang tumbuh bukanlah organisme, melainkan cangkang yang terus diperluas. Bentuk-bentuk baru hadir tanpa memiliki akar yang menghubungkannya dengan sebuah kebutuhan batin. Kesan ini semakin menguat ketika saya mencoba memahami dari mana sebenarnya bentuk-bentuk tersebut berasal.

--

Antara Berkarya dan Belanja

Salah satu yang saya ingin capai dalam residensi ini adalah untuk menemukan inti gagasan, atau yang sering saya rujuk kepada Xue dan Mervin sebagai “core sense” dari karya. Apa perasaan, pengalaman, atau persepsi yang dapat kita sepakati, yang mendorong kita untuk mengerjakan karya ini? Saya merasa hal ini penting sebagai benih yang menumbuhkan karyanya. Salah satu tantangan yang saya hadapi adalah ketika Xue mengatakan bahwa ia “tidak memiliki perasaan”.

Baik dalam percakapan di tengah residensi, yang kemudian ia sampaikan kembali pada sesi bincang diskusi, Xue menyampaikan bahwa ia saat ini tidak memiliki perasaan. Pada percakapan itu, saya sempat bertanya kepadanya, "Jika kamu mengatakan bahwa kamu tidak dapat 'merasakan', lalu dari mana asal material kekaryaanmu? Bagaimana kamu memilih rupa, wujud, atau bentuk yang kamu letakkan di dalam karyamu sendiri?"

Jawabnya,"Biasanya material muncul jika saya menemukan sesuatu yang ‘lucu’”. Lanjut saya, "Apakah 'lucu' itu merupakan sebuah perasaan?", ia balas "Bukan. Maksud saya, sesuatu yang menarik.". Percakapan ini terus menggelinding hingga saya bertanya, "Jika bentuk-bentuk kekaryaan dipilih sebatas karena menemukan sesuatu yang menarik, lalu apa bedanya berkarya dengan berbelanja?"

Ia menjawab, "Ya, terkadang saya melihat proses berkarya mirip seperti berbelanja."

Saya cukup tertegun mendengarnya, dan kalimat ini terus menghantui saya.

Saya menyadari bahwa kami mungkin menggunakan kata "perasaan" dengan pengertian yang berbeda. Ketika saya bertanya tentang asal mula sebuah bentuk, saya mencari pengalaman yang mengubah tubuh seseorang. Ketika ia menjawab "sesuatu yang menarik", saya mulai bertanya apakah kami sedang berbicara tentang dua cara memahami praktik seni yang memang berbeda.

Apakah mungkin ada kondisi ketika "ketertarikan" tidak lagi lahir dari keterlibatan yang panjang terhadap sesuatu, melainkan hanya menjadi laku “memetik”? Saya mulai melihat gejala tersebut pada berbagai praktik seni kontemporer, ketika material dipilih bukan karena ia terhubung dengan pengalaman hidup pembuatnya, melainkan karena “potensi” keindahan yang dapat dihasilkan dari material tersebut.

Saya mempertanyakan ini karena kecurigaan bahwa hal ini tidak mengulang kesalahan masa lalu dari penjajahan budaya. Ketika kesenian yang dibangun dari akal konsumsi kemudian berubah menjadi aktivitas mengoleksi berbagai bentuk, pengalaman, objek, atau estetika yang dianggap menarik untuk kemudian dirangkai menjadi karya.

Penjajahan kerap bekerja secara halus melalui hasrat untuk mengambil sesuatu dari tempat lain karena dianggap menarik, unik, atau bernilai. Entah itu berupa benda, ritual, lanskap, cerita, bahkan tubuh manusia. Hasrat ini tertanam dan diwariskan dari generasi ke generasi, menetap di bawah sadar. Kiranya patut dipertanyakan: jika seniman mengambil praktik budaya, trauma, spiritualitas, atau identitas tertentu hanya karena dianggap menarik secara artistik, apakah kita sedang mengulang ingatan bawah sadar penjajahan dalam bentuk yang lebih halus? Pengalaman ini menggelisahkan, namun cukup kuat untuk dapat melihat bahwa persoalan yang saya hadapi bukan sekadar konsumerisme dalam seni, melainkan sesuatu yang lebih mendasar: hasrat menghisap, menciptakan praktik seni yang ekstraktif.

--

Seni Menghisap

Selama residensi, saya berupaya mempelajari pengalaman ini untuk melihat lebih luas. Hari ini banyak seniman yang berusaha mencari asal-usul mereka melalui pendekatan autoetnografi. Mereka melacak etnisitasnya, mencari pengetahuan lokal, kemudian membangun karya dari sana. Cara lain yang juga sering terjadi adalah seniman/praktisi seni berkolaborasi dengan seniman yang memiliki "modal/aset budaya" tertentu agar karya memperoleh legitimasi topik yang diincar. Sekilas menjadi tren yang menarik dan seksi untuk diikuti, namun kedua cara tersebut saya kira menyimpan persoalan yang rumit, karena di dalamnya terkandung hasrat menghisap yang sering kali tidak disadari.

Saya mulai bertanya, dunia seperti apa yang menciptakan rezim produksi seni kontemporer semacam ini? Mengapa praktik-praktik “menghisap” tersebut terasa begitu lumrah?

Yang saya maksud dengan "menghisap" bukanlah sekadar mengambil referensi, karena saya kira pada taraf tertentu semua praktisi memiliki referensi. Persoalannya muncul ketika hubungan dengan sesuatu berhenti pada proses ekstraksi. Sebuah ritual dipelajari hanya agar estetikanya dapat dipakai. Sebuah pengalaman hidup didatangi hanya untuk menghasilkan material artistik. Hubungan tidak lagi bertujuan membiarkan diri diubah oleh sesuatu, tetapi mengubah sesuatu menjadi milik kita.

Saya rasa seni menghisap ini juga berbeda dengan pertukaran. Dalam pertukaran, hubungan dibangun melalui keterikatan. Dalam seni yang menghisap, motivasi utamanya adalah mengambil sesuatu dari suatu tempat tanpa benar-benar membangun hubungan dengannya. Objek hisapannya bisa berupa tubuh, lanskap, cerita, ritual, trauma, bahkan estetika perlawanan. Seperti penjajahan yang mengambil rempah-rempah, seni hari ini sering mengambil pengalaman hidup sebagai sumber daya. Logikanya tetap lestari meskipun objek hisapannya berubah. Ungkapan sederhana seperti, "Ah, ini menarik," diam-diam dapat menyimpan motivasi lain: "Ah, ini menarik untuk dihisap."

Bahkan pertunjukan yang mengatasnamakan partisipasi publik pun tidak sepenuhnya bebas dari persoalan ini. Apakah pelibatan publik yang kami lakukan juga merupakan bentuk menghisap? Apakah tubuh-tubuh publik ini hanya digunakan untuk menghasilkan citra tertentu tanpa konsensus, demi memperkuat karya? Apakah keterlibatan mereka benar-benar menawarkan ruang transformative bagi mereka, atau hanya menjadikan mereka material artistik yang memperkaya presentasi? Jika demikian, seni yang menghisap perlahan kehilangan motivasi untuk mencari pengalaman hidup. Pertanyaan-pertanyaan tersebut kemudian membawa saya pada satu persoalan lain yang terasa semakin mendasar: krisis ruang dalam.

--

Krisis Ruang Dalam

Awalnya saya mengira persoalan ini hanya berhenti pada proses penciptaan karya saja, namun semakin saya telusuri, semakin saya mencapai hulu sungai untuk melihat sumber dari arus panjang ini. Saya menyadari bahwa fenomena dalam karya ini menjadi ujung dari krisis ruang dalam sebagai kondisi budaya dan masyarakat. Krisis ruang dalam ini tidak semata membicarakan emosi personal, namun saya merujuk pada kemampuan tubuh untuk mengendapkan pengalaman hingga pengalaman tersebut mengubah cara seseorang memandang dunia. Endapan yang menjadi pupuk bagi karya untuk tumbuh.

Hari ini hampir semua hal diarahkan untuk tampil. Kita hidup dalam budaya yang terus mendorong eksternalitas: terlihat, dipublikasikan, dipamerkan, dipentaskan, menghasilkan. Urgensi untuk tampil berkembang jauh lebih cepat daripada kemampuan kita untuk membangun ruang batin. Tubuh perlahan berubah menjadi permukaan, kehilangan kemampuan mengendapkan pengalaman. Material artistik tidak lagi lahir dari hubungan tubuh dengan dunia, tetapi hanya berasal dari apa yang menempel pada permukaannya. Kini tak heran jika banyak karya-karya yang terasa besar, tetapi tidak padat. Kaya akan referensi, tetapi miskin pengalaman.

Berdiri di depan sumber air ini, saya perlahan duduk di atas pertanyaan apakah seniman hari ini masih mencipta? Atau sebenarnya ia hanya mengkurasi? Saya mengambang menjauh dari sumber air itu, mendapati satu ekor binatang datang untuk minum. Kulitnya berbulu domba seniman, namun ketika lidahnya menjulur, terlihat taring kuratorial yang berkilau.

Serigala Kurator Berbulu Domba Seniman

Seniman kini mengumpulkan berbagai sumber daya yang dianggap bernilai, dikoleksi lalu disusun dengan cantik seperti kaleng-kaleng sarden di etalase supermarket atau rangkaian bunga yang menghiasi lobi hotel. Karya seni tidak lagi berdiri di atas pengalaman; ia berdiri sebagai susunan referensi keindahan.

Fungsi kuratorial hari ini perlahan mendominasi fungsi penciptaan. Seniman tetap mencipta, tetapi proses penciptaannya semakin sering dimulai dari aktivitas memilih, menghubungkan, dan menyusun material yang telah tersedia. Penelusurannya kemudian bukan mengarah pada mencari kesalahan dari proses kurasi, melainkan: kapan proses memilih menggantikan proses mengalami? Apakah ini hasil dari apa kita serap secara bawah-sadar dari cara kerja algoritma media sosial? Algoritma tidak menciptakan pengalaman. Ia hanya memilah apa yang menarik perhatian, lalu menyusunnya agar sesuai dengan hasrat konsumsi penggunanya. Apakah ini merupakan awal dari kekalahan kita dengan zaman gila algoritma? Ketika kecerdasan buatan mulai mampu mengumpulkan, menghubungkan, dan menghasilkan kombinasi referensi dalam hitungan detik, kini kita perlahan menyerahkan fungsi tubuh kita kepada mekanisme tersebut.

Kita berselancar melihat karya-karya Pina Bausch, Kazuo Ohno, Marina Abramovic, Martha Graham, dan sederet seniman terkenal dengan karya-karya fenomenal lainnya, namun berhenti hanya memperhatikan bentuknya. Referensi hanya menjadi sebuah pohon yang dipetik buahnya, dipotek rantingnya, sampai dipotong batangnya, mengumpulkan garis dan bentuk yang dikumpulkan menjadi satu karya, tanpa tahu mengapa pohon itu tumbuh. Tubuh telah kehilangan jatinya sebagai organ yang mencerna pengalaman, kita lebih tertarik pada pembayangan atas tubuh sebagai mesin penyimpanan, gudang referensi.

Arus Jual-Beli Estetika

Saya mencoba melihat sejarah Butoh untuk memahami pertanyaan-pertanyaan ini.

Pada masa pasca-perang dunia kedua, Butoh lahir sebagai kritik terhadap konsumerisme budaya. Butoh menolak hasrat modernitas masyarakat Jepang yang terus mengonsumsi bentuk-bentuk impor, sekaligus menolak cara dunia Barat mengonsumsi Jepang sebagai objek eksotisme. Karena itu, Butoh menawarkan cara pandang lain dalam melihat keindahan, memberi ruang bagi rasa sakit, kegelapan, kepedihan, kematian, dan tubuh yang terluka. Estetikanya lahir sebagai konsekuensi langsung dari kritik tersebut. Panjang umur praktik Butoh hingga saat ini, namun hari ini kita juga harus mengakui bahwa sejarah tidak berhenti, dunia berubah dan kita berdiri pada kenyataan yang berbeda.

Saat ini trauma dan rasa sakit telah menjadi komoditas. Bahkan estetika Butoh sendiri telah menjadi komoditas yang sering kali diimpor ke wilayah-wilayah lain untuk sekadar dihisap bentuknya. Selain butoh, praktik-praktik seni yang tumbuh dari perlawanan seperti dalam seni performans juga dibungkus ulang menjadi komoditas yang laris di panggung-panggung pementasan. Maka, mempraktikkan seni perlawanan tidak cukup dengan mengulang estetikanya. Perlu ada pemahaman yang kritis terhadap sejarah terbentuknya praktik tersebut dan terhadap bagaimana estetika perlawanan itu kini diperjualbelikan. Perlawanan dalam seni tidak diwariskan melalui bentuknya, melainkan melalui keberaniannya untuk terus mengkritik kondisi zamannya.

Dari seluruh pengalaman ini, saya membiarkan diri saya mengikuti arus sungai untuk sampai pada hilir, bahwa bentuk dan bahasa artistik yang baru perlu lahir dari cara hidup berkesenian yang baru. Sebuah cara hidup seni di mana gagasan benar-benar mengubah cara tubuh merasakan dunia.

Merawat Ruang Dalam

Saya yang tengah terombang-ambing kembali menyusuri sungai, melihat batu, perahu, ikan, air, tanah, dan daun. Lama bagi saya menyadari bahwa hal-hal tersebut bukanlah hal-hal yang terpisah, melainkan melebur dalam pengalaman yang secara menyeluruh merupakan “sungai”.

Selama residensi, saya mulai melihat dua cara karya seni lahir. Cara pertama adalah melalui penambahan. Material terus dikumpulkan, dipilih, lalu disusun menjadi sebuah komposisi. Cara kedua adalah melalui pertumbuhan. Bentuk muncul perlahan sebagai konsekuensi dari perubahan cara seseorang mengalami dunia. Keduanya sama-sama menghasilkan karya, tetapi menghasilkan hubungan yang berbeda antara tubuh, pengalaman, dan bentuk.

Saya sadar bahwa ketiadaan atas rasa terjadi tidak hanya pada segelintir, namun merupakan satu fenomena sosial di mana kehidupan kita tidak lagi memberi ruang untuk merasa. Pada satu sisi, hidup menjadi hambar karena rasa telah dialihkan menjadi produk. Rasa tidak lagi diupayakan, ia diperjual-belikan. Banyak dari kita tidak lagi merasa perlu bekerja, namun justru bekerja untuk merasa.

Maka, secara tak sadar kita mati-rasa, atau lebih tepatnya dimatikan. Kita lupa bahwa senang, sedih, takut, marah, semua datang dari ruang dalam diri. Kita hanya ingat bahwa senang berasal dari sepatu baru, sedih datang dari film di bioskop. Rumah bukan lagi tempat di mana kita merasa aman, melainkan tempat yang harus kita miliki setelah menikah. Taman bukan lagi tempat untuk berbagi rasa tenang, melainkan tempat yang bisa kita nikmati keindahannya setelah membeli tiket.

Saya kira saat ini untuk menjadi radikal adalah untuk kembali merasa dan merawat ruang dalam.

Dalam dunia yang semakin mati rasa ini, saya ingin percaya bahwa gagasan artistik sejatinya tidak dipilih hanya karena ia “menarik”, tetapi karena satu dorongan batin yang tidak terelakkan. Dorongan itu muncul dari ruang dalam diri yang mengandung gagasan tersebut, bagaimana gagasan itu mengubah cara kita melihat, mendengar, menyentuh, berjalan, dan berhubungan dengan dunia. Gagasan menyadarkan bahwa tubuh tidak berseberangan dengan dunia, melainkan menyadari bahwa ia adalah dunia itu sendiri. Maka, perubahan dilahirkan sebagai proses untuk membagikan perubahan dari dunia dalam ke dunia luar. Gagasan terlebih dahulu mengubah dunia di dalam pembuatnya sebelum berusaha membuat perubahan kepada dunia di luar dirinya.

Mungkin sudah saatnya seniman berhenti berusaha menjadi kurator atas karya-karyanya sendiri. Sudah saatnya seniman kembali menjalani kesenian sebagai upaya merawat ruang dalam layaknya sebuah taman ingatan. Bukan taman yang terbingkai pagar cantik dengan paving dan dihiasi koleksi tanaman eksotik, melainkan satu tanah air yang hidup, tempat bunga-bunga pengalaman dan ingatan tumbuh, saling memengaruhi, dan terus berubah.

Razan Wirjosandjojo

Razan Wirjosandjojo is an artist based in Solo, Indonesia. He graduated from the Dance

Department of Institut Seni Indonesia Surakarta. He began his dance practice in 2010, learning

across diverse spaces and communities in Jakarta until 2017. Since relocating to Solo, he has

continued his artistic development through an ongoing mentorship with Melati Suryodarmo,

beginning in 2018.

His practice approaches the body as both a physical and temporal site, where movement

becomes a conversation between organ and soul, presence and disappearance. The concept of

rasa plays a central role in his work as a perceptual system that opens access to hidden memory

and intuitive knowledge. Working across dance, performance art, film, and photography, he

revisits history in search of sensations often overlooked by contemporary mainstream culture.

Previous
Previous

The Crisis of Inner Space