Kosong yang Ingin Digendong / Emptiness That Wants To Be Carried

(English below)

Februari lalu, saya merangkai “Taman Ingatan” sebagai ucapan selamat tinggal pada sebuah bengkel yang saya anggap rumah sejak kecil. Ucapan itu saya sampaikan dalam bentuk performans yang berjalan melintasi pematang hari, dari petang hingga malam.

Saya mengundang beberapa kawan dekat, namun saya lupa bahwa “dekat” itu agak sulit dijelaskan di kota yang rumit seperti Jakarta.

Meskipun tidak ada yang hadir, hal itu tidak membuat khawatir karena yang utama adalah untuk mengunjungi kembali ingatan-ingatan yang sedang bersender di pojokan.

-

Ketika ingatan dikunjungi, ia akan mencoba berdiri. Jika masih kuat, ia akan menari. Namun banyak dari mereka yang enggan naik, mungkin karena mengantuk atau terlalu letih duduk. Beberapa memutuskan untuk tetap di sini, beberapa memutuskan untuk ikut pergi.

Performans ini menjadi pertemuan yang memperingati kepergian itu. Bukan semata kepergian dinding dan tiang, namun juga kenangan yang tak lagi bisa saya rekam dengan telepon genggam. Maka, kamera dan hape Hasna hanya mampu mendokumentasikan saya yang menata sesuatu yang tak kasat mata. Karena rekaman yang ketiga saya simpan di kepala.

Kala ingatan tak lagi dapat ditampung ruang, maka tubuh yang kerap mengandung. Ia melekat pada diri, mengikuti kemana pun tubuh ini akan pergi. Ingatan itu kemudian tumbuh layu bagai bunga yang bermunculan di kerak-kerak batu, sesekali kita kunjungi sebagai taman ingatan di dalam hati, sebelum tubuh ini mati.

Karenanya, saya menyadari mengucapkan perpisahan membutuhkan tak sedikit keberanian dan kekuatan, karena sejatinya perpisahan tidak benar-benar melepaskan, ia hanya menukarkan mereka yang ditinggalkan dengan kosong yang minta digendong, diikuti tiada yang cinta air mata.

Mungkin karena itu, ayah saya membiarkan saya menari. Karena dalam tari ketiadaan dirawat, agar saya dapat tetap tumbuh dalam tempat yang tak pernah utuh

-

Pada akhirnya, karya ini menjadi sebuah peristiwa yang tidak hanya menutup perjumpaan saya dengan rumah, namun juga mengakhiri satu bab panjang antara saya dan Jakarta. Melambai pada debu yang mengedapkan cinta dan luka, serta mereka yang tak lagi menyapa.

Razan Wirjosandjojo

Razan Wirjosandjojo is an artist based in Solo, Indonesia. He graduated from the Dance

Department of Institut Seni Indonesia Surakarta. He began his dance practice in 2010, learning

across diverse spaces and communities in Jakarta until 2017. Since relocating to Solo, he has

continued his artistic development through an ongoing mentorship with Melati Suryodarmo,

beginning in 2018.

His practice approaches the body as both a physical and temporal site, where movement

becomes a conversation between organ and soul, presence and disappearance. The concept of

rasa plays a central role in his work as a perceptual system that opens access to hidden memory

and intuitive knowledge. Working across dance, performance art, film, and photography, he

revisits history in search of sensations often overlooked by contemporary mainstream culture.

Next
Next

30 September & Jati Tujuh