G30S & Jati Tujuh

(english below)

Setahun yang lalu, “Jati Tujuh” hidup di antara berbagai tanda kematian; Karya ini dilakukan sebagai proses kremasi pohon-pohon jati yang ditebang untuk pembukaan lahan, sekaligus menandai hari terakhir sebelum Studio Plesungan lama ditinggalkan, yang bertepatan pada tanggal 30 September.

Meskipun tidak sempurna, saya belajar banyak dari pengalaman memaknai kematian dalam karya ini. Menari dan melaku dari senja hingga fajar membawa saya pada banyak pengalaman yang tidak saya temukan di panggung. Bergerak perlahan menjauh dari dorongan hasrat berbuat, berpindah, dan berbicara. Sedikit demi sedikit, bergerak perlahan mendekat untuk mengulang, menunggu, dan mendengar. Ia memberi waktu untuk tinggal lebih lama pada sesuatu yang biasanya ingin lekas lewat.

Dimulai dengan mengubur diri dalam daun jati, mengantar potongan kayu jati, membasuh diri dengan tanah basah, memotong rambut, kemudian menari dengan daun jati kering di hadapan bara api, karya ini menandai kematian sebagai titik yang terjadi berkali-kali, untuk diri yang sebetulnya menyimpan begitu banyak rasa takut terhadap kematian. Bukan hanya kematian raga, tetapi juga kematian ego, kuasa, agama, keluarga, uang, dan berbagai hal yang dianggap dan diharap tetap.

30 September dibangun menjadi monumen untuk membagikan ketakutan bersama terhadap kematian, yang sampai hari ini masih dilestarikan-bahkan dibangun lebih tinggi. Ketakutan diciptakan melalui kematian yang diproduksi secara massal, sejak itu hidup tidak pernah lagi duduk bersama mati, untuk saling mengenal dan merawat satu sama lain. Hidup habis dijalani untuk menghindari kematian.

Sesedikitnya, Jati Tujuh memberi satu malam untuk keluar dari rasa takut itu, untuk mengingat bahwa gerak adalah peristiwa yang mempertemukan kelahiran dan kematian, penciptaan dan kehancuran.

—

A year ago, Jati Tujuh lived among various signs of death. The work was carried out as a process of cremating teak trees that had been cut down to clear the land, while also marking the final day before the old Studio Plesungan was abandoned, which coincided with September 30.

Although it was far from perfect, I learned a lot from the experience of contemplating death through this work. Dancing and doing from dusk until dawn brought me into many experiences that I had never encountered on stage. Slowly moving away from the impulse to act, to move, and to speak. Little by little, moving closer to repetition, waiting, and listening. It gave me time to remain with something longer than I normally would, rather than wanting to let it pass quickly.

Beginning with self-burying in teak leaves, carrying pieces of teak wood, washing myself with wet earth, cutting my hair, and then dancing with dry teak leaves before the embers, the work marked death as something that occurs again and again, for a self that, in truth, holds so much fear of death. Not only the death of the body, but also the death of ego, power, religion, family, money, and the many things we believe and hope will remain.

September 30 became a monument to our shared fear of death—a fear that, to this day, continues to be preserved and even built higher. Fear is produced through death being manufactured on a mass scale. Since then, life has no longer sat together with death, to know and care for one another. Life is exhausted in the effort to avoid death.

At the very least, Jati Tujuh offered one night to step outside that fear, to remember that movement is an event that brings birth and death, creation and destruction, into encounter with one another.

Razan Wirjosandjojo

Razan Wirjosandjojo is an artist based in Solo, Indonesia. He graduated from the Dance

Department of Institut Seni Indonesia Surakarta. He began his dance practice in 2010, learning

across diverse spaces and communities in Jakarta until 2017. Since relocating to Solo, he has

continued his artistic development through an ongoing mentorship with Melati Suryodarmo,

beginning in 2018.

His practice approaches the body as both a physical and temporal site, where movement

becomes a conversation between organ and soul, presence and disappearance. The concept of

rasa plays a central role in his work as a perceptual system that opens access to hidden memory

and intuitive knowledge. Working across dance, performance art, film, and photography, he

revisits history in search of sensations often overlooked by contemporary mainstream culture.

Next
Next

The Distance Between City and Kitchen: “The Kitchen Under Skin” Kenta Masukawa